Menulis

Menulis itu membosankan, susah, dan menyita waktu.

Namun justru karena membosankan, susah dan menyita waktu itulah menulis menjadi saran yang ampuh untuk melepaskan pikiran dari kesusahan duniawi. Saya membuktikan sendiri fakta ini. Sekitar lima tahun saat patah hati yang betulan pertama kali saya alami. Fokus saya hilang, ujian di depan mata, tugas akhir menumpuk, tidak ada yang selesai. Rusak semua karena hal sesepele patah hati.

Saya sendiri bukan orang yang bisa banyak bercerita, dan cerita-cerita yang saya paparkan biasanya jauh dari kehidupan sehari-hari saya. Banyak yang memberi saran, cobalah keluar, bergaul, main, mungkin bisa membuat pikiranmu lebih lega. Entah kenapa tidak ada satupun hal tersebut yang berhasil meringankan pikiran.

Lalu saya mulai menulis. Dengan perangkat seadanya, laptop usia tiga tahunan yang sering mati-mati karena kepanasan saya bisa posting hingga tiga tulisan sehari. Mulai dari curhatan, esei membahas percintaan, resensi buku. Apapun buat mengalihkan perhatian dan pikiran saya. Menyembuhkan, pelan-pelan hidup saya kembali tertata.

Sekarang? Sekarang entahlah, pekerjaan mulai terasa membosankan, sekolah melelahkan. Mungkin karena saya kurang menulis. Kurang membaca juga.