Matahari Terbenam

Kamera-kamera bertebaran dalam berbagai rupa, menempel pada ponsel pintar, banyak lagi yang berukuran besar dengan lensa mirip peluncur misil.

Oy, sudah mau matahari terbenam ini! Siap-siap!

Kemudian orang-orang mulai mengintip dari balik penangkap gambarnya masing-masing. Dengan tripod kukuh menyangga perlengkapannya. Siapa yang bisa menangkap gambar senja yang indah, dialah yang hebat, menangkap warna jingga keemasan dan bayangan - bayangan awan.

Saya?

Sekali dua kali saya melakukan hal ini, berusaha menangkap momen yang lepas karena coba saya tangkap.

Sebelum akhirnya saya ingat kalau matahari terbenam ini layaknya dinikmati sepenuhnya, sepuasnya. Belum pasti saya akan mengalami matahari terbenam lagi besok, entah karena bumi tiba-tiba lelah berputar atau mata saya memutuskan berhenti menangkap bayangan.

Matahari hari ini dan besok tentu berbeda di suasana hati, beda rasa yang ditangkap dan disimpan. Senja layaknya dinikmati, seperti pelukan sebelum lepas landas, atau sebelum naik ke gerbong kereta.

Manusia perlu ingat menikmati hari dan mengisi hati. Bukan berusaha menangkap waktu, lalu lupa.